Kamis, 21 Mei 2026

Pemikiran Zarathustra: Dualisme, Moralitas, dan Pengaruhnya terhadap Tradisi Filsafat Persia

Pemikiran Zarathustra

Dualisme, Moralitas, dan Pengaruhnya terhadap Tradisi Filsafat Persia


Alihkan ke: Filsafat Persia.


Abstrak

Artikel ini mengkaji pemikiran Zarathustra sebagai salah satu fondasi penting dalam tradisi filsafat dan spiritualitas Persia kuno. Kajian difokuskan pada dimensi metafisika, etika, dan relevansi pemikiran Zarathustra dalam konteks modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis-filosofis dengan metode analisis tekstual terhadap sumber-sumber utama Zoroastrianisme, khususnya Avesta dan Gatha, serta didukung oleh berbagai literatur akademik modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Zarathustra menempatkan Ahura Mazda sebagai prinsip tertinggi yang menjadi sumber keteraturan kosmis dan moralitas universal. Konsep dualisme antara asha (kebenaran) dan druj (kebohongan) menjadi inti metafisika Zarathustra yang memengaruhi struktur etika dan kosmologi Zoroastrianisme. Dalam dimensi etika, Zarathustra menekankan kebebasan moral manusia melalui prinsip “pikiran baik, perkataan baik, dan perbuatan baik” (Humata, Hukhta, Hvarshta), yang menempatkan manusia sebagai agen moral yang bertanggung jawab atas pilihannya. Artikel ini juga menunjukkan bahwa pemikiran Zarathustra memiliki pengaruh luas terhadap perkembangan filsafat agama dan tradisi eskatologis dunia, serta memperoleh reinterpretasi baru dalam filsafat modern melalui Friedrich Nietzsche. Di era modern, pemikiran Zarathustra tetap relevan dalam diskursus mengenai etika lingkungan, kebebasan moral, spiritualitas, dan krisis modernitas. Meskipun demikian, pemikiran Zarathustra juga menghadapi kritik, terutama terkait problem dualisme dan persoalan historisitas sumber-sumber Avesta. Oleh karena itu, pemikiran Zarathustra perlu dipahami secara kritis dan kontekstual sebagai bagian penting dari sejarah perkembangan filsafat dan agama dunia.

Kata Kunci: Zarathustra, filsafat Persia, Zoroastrianisme, metafisika, etika, dualisme, Ahura Mazda, filsafat agama.


PEMBAHASAN

Telaah Pemikiran Zarathustra dalam Tradisi Filsafat Persia


1.           Pendahuluan

Kajian mengenai filsafat Persia kuno merupakan salah satu bidang penting dalam sejarah pemikiran manusia karena memuat perkembangan awal gagasan metafisika, etika, dan kosmologi yang memberi pengaruh besar terhadap tradisi intelektual dunia. Di antara tokoh paling berpengaruh dalam tradisi tersebut adalah Zarathustra, yang dalam tradisi Yunani dikenal dengan nama Zoroaster. Pemikirannya tidak hanya membentuk fondasi agama Zoroastrianisme, tetapi juga memengaruhi perkembangan konsep moralitas dualistik, eskatologi, serta gagasan tentang pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam berbagai tradisi keagamaan dan filsafat setelahnya.¹

Dalam sejarah intelektual Iran kuno, Zarathustra menempati posisi yang unik karena ajarannya memperlihatkan perpaduan antara dimensi religius dan refleksi filosofis. Ajaran tersebut menekankan keberadaan prinsip kebenaran (asha) yang berhadapan dengan prinsip kebohongan atau kekacauan (druj).² Pertentangan ini bukan sekadar konsep teologis, melainkan juga memiliki implikasi etis yang mendalam terhadap kehidupan manusia. Manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki kebebasan moral untuk menentukan pilihan antara jalan kebaikan dan keburukan. Dengan demikian, pemikiran Zarathustra tidak hanya berbicara mengenai realitas kosmis, tetapi juga mengenai tanggung jawab moral manusia dalam kehidupan sosial.

Selain itu, pemikiran Zarathustra menarik untuk dikaji karena memunculkan salah satu bentuk awal dualisme dalam sejarah filsafat. Dualisme tersebut sering dipahami sebagai pertentangan antara terang dan gelap, baik dan buruk, atau keteraturan dan kekacauan. Namun, sejumlah sarjana modern berpendapat bahwa dualisme Zarathustra lebih bersifat etis daripada ontologis.³ Artinya, pertentangan tersebut tidak selalu menunjukkan adanya dua prinsip absolut yang setara, melainkan lebih menekankan pilihan moral manusia dalam mendukung kebenaran atau kebatilan. Perdebatan ini menjadikan pemikiran Zarathustra relevan dalam diskusi filsafat agama, metafisika, dan etika kontemporer.

Di samping pengaruhnya terhadap tradisi Persia, pemikiran Zarathustra juga diduga memiliki hubungan historis dengan perkembangan tradisi Abrahamik seperti Yudaisme, Kristen, dan Islam, terutama dalam konsep malaikat, hari penghakiman, surga, neraka, dan akhir zaman.⁴ Walaupun pengaruh tersebut masih menjadi perdebatan akademik, banyak peneliti melihat adanya persinggungan intelektual yang signifikan antara Zoroastrianisme dan tradisi-tradisi tersebut selama periode Kekaisaran Persia kuno. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Zarathustra tidak dapat dipahami hanya sebagai fenomena lokal, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah besar perkembangan ide-ide keagamaan dan filosofis dunia.

Lebih jauh lagi, tokoh Zarathustra memperoleh interpretasi baru dalam filsafat modern melalui karya Also Sprach Zarathustra karya Friedrich Nietzsche. Nietzsche menggunakan figur Zarathustra sebagai simbol untuk menyampaikan gagasan tentang manusia unggul (Übermensch), kehendak untuk berkuasa (will to power), dan kritik terhadap moralitas tradisional.⁵ Meskipun Zarathustra Nietzsche berbeda secara substansial dari Zarathustra historis, penggunaan tokoh tersebut menunjukkan betapa kuatnya daya pengaruh simbolik dan filosofis Zarathustra dalam tradisi pemikiran modern.

Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran Zarathustra secara filosofis dengan menyoroti aspek metafisika, etika, dan pengaruh historisnya terhadap perkembangan filsafat serta agama-agama dunia. Kajian ini juga akan membahas relevansi pemikiran Zarathustra dalam konteks modern, khususnya terkait problem moralitas, kebebasan manusia, dan pertarungan nilai dalam kehidupan kontemporer. Dengan pendekatan historis-filosofis dan analisis terhadap teks-teks utama Zoroastrianisme, terutama Gatha dalam Avesta, artikel ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai posisi Zarathustra dalam sejarah pemikiran manusia.


Footnotes

[1]                ¹ Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 1–5.

[2]                ² The Gathas of Zarathustra, trans. Stanley Insler (Leiden: Brill, 1975), 34–40.

[3]                ³ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 56–63.

[4]                ⁴ Geo Widengren, The Ascension of the Apostle and the Heavenly Book (Uppsala: Lundequistska Bokhandeln, 1950), 112–118.

[5]                ⁵ Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, trans. Walter Kaufmann (New York: Penguin Books, 1978), 3–10.


2.           Latar Historis Zarathustra

2.1.       Kondisi Sosial dan Budaya Persia Kuno

Kemunculan Zarathustra tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan religius masyarakat Indo-Iran kuno. Sebelum reformasi keagamaan Zarathustra, masyarakat Persia kuno hidup dalam tradisi politeistik yang memiliki banyak dewa yang berkaitan dengan fenomena alam, peperangan, kesuburan, dan ritual pengorbanan.¹ Tradisi tersebut merupakan bagian dari warisan budaya Indo-Iran yang memiliki kedekatan historis dengan masyarakat Veda di India kuno. Dalam praktik keagamaannya, ritual pengorbanan hewan dan penggunaan minuman suci haoma menjadi unsur penting dalam kehidupan religius masyarakat saat itu.²

Struktur sosial masyarakat Persia kuno juga memperlihatkan pembagian kelas yang cukup jelas, terutama antara kaum bangsawan, prajurit, petani, dan kaum pendeta. Kaum pendeta memiliki posisi penting karena mereka menguasai ritual keagamaan serta menjadi mediator antara manusia dan para dewa.³ Dalam situasi demikian, agama tidak hanya berfungsi sebagai sistem kepercayaan spiritual, tetapi juga sebagai instrumen legitimasi sosial dan politik. Zarathustra muncul di tengah kondisi tersebut dengan membawa kritik terhadap praktik ritualisme yang dianggap menyimpang dari prinsip kebenaran dan moralitas.

Ajaran Zarathustra memperlihatkan upaya reformasi terhadap agama tradisional Persia kuno. Ia menolak sebagian praktik pengorbanan dan menekankan pentingnya kemurnian moral dibanding sekadar ritual formal.⁴ Karena itu, kemunculan Zarathustra sering dipandang sebagai transformasi besar dalam sejarah keagamaan Iran kuno, yakni pergeseran dari politeisme ritualistik menuju sistem kepercayaan yang lebih etis dan monoteistik atau monoteistik-etis.

2.2.       Biografi Zarathustra

Informasi historis mengenai kehidupan Zarathustra masih menjadi perdebatan di kalangan sarjana. Tidak terdapat kesepakatan pasti mengenai waktu hidupnya karena sumber-sumber yang tersedia bercampur antara tradisi historis, legenda religius, dan interpretasi filologis modern. Sebagian sarjana klasik menempatkan Zarathustra sekitar abad ke-6 SM, sementara penelitian linguistik modern terhadap bahasa Gatha menunjukkan kemungkinan bahwa ia hidup jauh lebih awal, sekitar 1500–1200 SM.⁵

Selain persoalan kronologi, lokasi asal Zarathustra juga menjadi bahan diskusi akademik. Beberapa peneliti mengaitkannya dengan wilayah timur Iran kuno, seperti Bactria atau Chorasmia, sementara yang lain menghubungkannya dengan kawasan Asia Tengah.⁶ Terlepas dari perdebatan tersebut, mayoritas sarjana sepakat bahwa Zarathustra hidup dalam lingkungan budaya Iran Timur yang masih sangat dipengaruhi tradisi Indo-Iran kuno.

Menurut tradisi Zoroastrianisme, Zarathustra menerima wahyu ilahi melalui pengalaman spiritual ketika berusia sekitar tiga puluh tahun. Dalam pengalaman tersebut, ia memperoleh visi tentang Ahura Mazda sebagai Tuhan kebijaksanaan dan sumber kebenaran.⁷ Setelah pengalaman tersebut, Zarathustra mulai menyebarkan ajarannya yang menekankan pertarungan moral antara kebaikan dan keburukan serta pentingnya pilihan etis manusia.

Pada awal dakwahnya, Zarathustra menghadapi penolakan dari kelompok pendeta tradisional dan elite masyarakat yang merasa terancam oleh kritik terhadap ritual lama. Namun, ajarannya kemudian memperoleh dukungan dari seorang penguasa bernama Vishtaspa yang diyakini berperan besar dalam penyebaran Zoroastrianisme di wilayah Persia kuno.⁸ Dukungan politik tersebut memungkinkan ajaran Zarathustra berkembang menjadi fondasi religius dan budaya masyarakat Iran selama berabad-abad.

2.3.       Kitab Suci Avesta

Sumber utama untuk memahami pemikiran Zarathustra adalah Avesta, yaitu kumpulan teks suci Zoroastrianisme yang disusun dalam bahasa Avestan kuno. Avesta terdiri atas beberapa bagian, seperti Yasna, Visperad, Vendidad, dan Yasht. Di antara bagian-bagian tersebut, Gatha dianggap paling penting karena diyakini memuat ajaran asli Zarathustra dalam bentuk himne-himne religius.⁹

Bahasa Gatha memiliki karakter linguistik yang sangat kuno dan memiliki kemiripan dengan bahasa Sanskerta Veda. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak sarjana modern menganggap Gatha sebagai sumber paling autentik mengenai pemikiran Zarathustra.¹⁰ Dalam teks-teks tersebut, Zarathustra menampilkan refleksi filosofis mengenai kebenaran, moralitas, kebebasan manusia, dan hubungan manusia dengan Ahura Mazda.

Meskipun demikian, transmisi Avesta mengalami sejarah panjang yang kompleks. Sebagian besar teks Avesta diduga hilang akibat invasi dan perubahan politik yang terjadi di Persia, terutama setelah penaklukan Aleksander Agung dan kemudian pada masa Islam awal.¹¹ Naskah-naskah yang tersedia saat ini merupakan hasil kodifikasi ulang yang dilakukan pada masa Dinasti Sassaniyah. Oleh karena itu, kajian terhadap Avesta memerlukan pendekatan historis-kritis untuk membedakan antara ajaran asli Zarathustra dan perkembangan teologis Zoroastrianisme pada periode-periode berikutnya.

Sebagai sumber religius dan filosofis, Avesta tidak hanya penting bagi sejarah Iran kuno, tetapi juga bagi studi filsafat agama secara umum. Teks-teks tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Persia kuno memahami realitas kosmis, moralitas, dan tujuan hidup manusia. Dengan demikian, pemikiran Zarathustra melalui Avesta menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia.


Footnotes

[1]                ¹ Mary Boyce, A History of Zoroastrianism, Vol. 1 (Leiden: Brill, 1975), 18–25.

[2]                ² Geo Widengren, Religionen Irans (Stuttgart: Kohlhammer, 1965), 34–39.

[3]                ³ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 12–17.

[4]                ⁴ The Gathas of Zarathustra, trans. Stanley Insler (Leiden: Brill, 1975), 45–47.

[5]                ⁵ Ilya Gershevitch, “Zoroaster’s Own Contribution,” Journal of Near Eastern Studies 23, no. 1 (1964): 14–18.

[6]                ⁶ Walter Bruno Henning, Zoroaster: Politician or Witch-Doctor? (London: Oxford University Press, 1951), 7–10.

[7]                ⁷ The Gathas of Zarathustra, 89–93.

[8]                ⁸ Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 15–19.

[9]                ⁹ Avesta, trans. James Darmesteter (Oxford: Clarendon Press, 1880), vii–xii.

[10]             ¹⁰ Martin Haug, Essays on the Sacred Language, Writings and Religion of the Parsis (London: Trübner, 1878), 230–236.

[11]             ¹¹ Mary Boyce, Textual Sources for the Study of Zoroastrianism (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 1–6.


3.           Fondasi Metafisika Pemikiran Zarathustra

3.1.       Ahura Mazda sebagai Prinsip Tertinggi

Salah satu fondasi utama dalam metafisika Zarathustra adalah konsep tentang Ahura Mazda sebagai realitas tertinggi dan sumber segala kebaikan. Dalam Gatha, Ahura Mazda dipahami sebagai “Tuhan Kebijaksanaan” yang menciptakan alam semesta berdasarkan prinsip keteraturan dan kebenaran.¹ Berbeda dengan sistem politeisme Persia kuno sebelumnya yang mengakui banyak dewa dengan fungsi berbeda-beda, Zarathustra menempatkan Ahura Mazda sebagai pusat kosmos sekaligus sumber moralitas universal.

Ahura Mazda tidak hanya dipahami sebagai pencipta dunia secara fisik, tetapi juga sebagai prinsip intelektual dan etis yang menopang keteraturan kosmis. Dalam ajaran Zarathustra, kebijaksanaan ilahi menjadi dasar bagi keberadaan hukum moral yang mengatur hubungan manusia dengan sesama, alam, dan dunia spiritual.² Oleh karena itu, metafisika Zarathustra memiliki dimensi etis yang sangat kuat karena struktur realitas dipahami tidak netral, melainkan berpihak pada kebenaran dan kebaikan.

Konsep ketuhanan dalam Zoroastrianisme juga memperlihatkan kecenderungan menuju monoteisme etis. Meskipun terdapat entitas-entitas spiritual lain dalam kosmologi Zoroastrianisme, Ahura Mazda tetap dipandang sebagai prinsip tertinggi yang tidak tertandingi dalam kebijaksanaan dan kebenaran.³ Dalam hal ini, Zarathustra menggeser orientasi religius masyarakat Persia kuno dari pemujaan banyak dewa menuju pengakuan terhadap satu sumber ilahi yang absolut secara moral.

Selain itu, Ahura Mazda digambarkan memiliki hubungan langsung dengan akal dan kesadaran manusia. Manusia dianggap mampu mengenal kebenaran karena dianugerahi kemampuan berpikir dan kebebasan memilih.⁴ Dengan demikian, hubungan manusia dengan Tuhan dalam pemikiran Zarathustra tidak semata-mata bersifat ritualistik, tetapi juga intelektual dan moral. Kebenaran harus dipahami melalui refleksi rasional dan diwujudkan dalam tindakan etis.

3.2.       Dualisme Kosmis

Salah satu aspek paling terkenal dalam metafisika Zarathustra adalah dualisme kosmis, yakni pertentangan antara prinsip kebaikan dan keburukan. Dalam Gatha, pertentangan ini direpresentasikan melalui konsep asha dan druj. Asha merujuk pada kebenaran, keteraturan, harmoni, dan hukum kosmis, sedangkan druj menunjuk pada kebohongan, kekacauan, dan kehancuran.⁵ Kedua prinsip tersebut menjadi dasar bagi struktur moral alam semesta.

Dalam perkembangan teologi Zoroastrianisme, dualisme tersebut kemudian dipersonifikasikan melalui dua kekuatan spiritual, yaitu Spenta Mainyu dan Angra Mainyu. Spenta Mainyu dipahami sebagai roh progresif yang mendukung kehidupan, cahaya, dan keteraturan, sedangkan Angra Mainyu dipandang sebagai roh destruktif yang membawa kerusakan dan kebatilan.⁶ Pertentangan kedua kekuatan ini membentuk dinamika kosmis yang berlangsung sepanjang sejarah dunia.

Namun, para sarjana berbeda pendapat mengenai sifat dualisme Zarathustra. Sebagian memahami dualisme tersebut sebagai dualisme ontologis, yakni adanya dua prinsip kekal yang sama-sama fundamental dalam realitas.⁷ Akan tetapi, sebagian sarjana lain berpendapat bahwa dualisme Zarathustra lebih bersifat etis daripada metafisis. Dalam pandangan ini, kejahatan tidak memiliki status ontologis yang setara dengan kebaikan, melainkan merupakan hasil dari pilihan sadar yang menolak keteraturan ilahi.⁸

Interpretasi kedua dianggap lebih sesuai dengan teks-teks awal Gatha yang menempatkan Ahura Mazda sebagai sumber utama kebenaran dan kebijaksanaan. Dengan demikian, dualisme Zarathustra dapat dipahami bukan sebagai pertentangan dua Tuhan yang setara, melainkan sebagai konflik moral dalam struktur kosmis yang menuntut partisipasi aktif manusia. Manusia dipandang sebagai agen moral yang memiliki tanggung jawab untuk mendukung asha melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan baik.

Konsep dualisme ini memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat agama dan tradisi eskatologis dunia. Gagasan mengenai pertarungan antara terang dan gelap, baik dan buruk, kemudian muncul dalam berbagai tradisi religius setelah periode Persia kuno.⁹ Oleh sebab itu, dualisme Zarathustra menjadi salah satu konsep metafisis paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran manusia.

3.3.       Kosmologi dan Struktur Alam Semesta

Metafisika Zarathustra juga mencakup pandangan kosmologis mengenai penciptaan, struktur alam semesta, dan tujuan akhir sejarah. Dalam ajaran Zoroastrianisme, dunia dipahami sebagai arena pertarungan moral antara kekuatan kebaikan dan kejahatan. Alam semesta tidak bersifat statis, melainkan bergerak menuju kemenangan akhir kebenaran atas kebatilan.¹⁰

Menurut kosmologi Zoroastrianisme, Ahura Mazda menciptakan dunia dalam keadaan baik dan teratur. Akan tetapi, Angra Mainyu kemudian memasuki dunia dan membawa kerusakan, penderitaan, serta kematian.¹¹ Kehadiran kejahatan di dunia bukan dipahami sebagai ciptaan langsung Ahura Mazda, melainkan sebagai bentuk oposisi terhadap keteraturan ilahi. Karena itu, sejarah kosmis dipandang sebagai proses panjang menuju pemulihan kesempurnaan ciptaan.

Dalam kerangka tersebut, manusia memiliki posisi sentral dalam drama kosmis. Setiap tindakan moral manusia dianggap berkontribusi terhadap kemenangan asha atau justru memperkuat druj.¹² Dengan demikian, eksistensi manusia tidak hanya memiliki dimensi individual, tetapi juga kosmis. Kehidupan manusia dipahami sebagai bagian dari perjuangan universal antara kebenaran dan kebohongan.

Pemikiran Zarathustra juga mengenal konsep akhir zaman yang disebut Frashokereti, yaitu pembaruan atau pemurnian akhir alam semesta. Dalam peristiwa tersebut, kejahatan akan dihancurkan sepenuhnya dan dunia dikembalikan pada kondisi sempurna.¹³ Jiwa-jiwa manusia akan dihakimi berdasarkan pilihan moral mereka selama hidup, sementara kebenaran akan memperoleh kemenangan final. Konsep ini menunjukkan bahwa sejarah dalam Zoroastrianisme bersifat linear dan teleologis, yakni bergerak menuju tujuan akhir yang telah ditentukan secara moral.

Secara filosofis, kosmologi Zarathustra memperlihatkan optimisme metafisis bahwa kebaikan pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan. Pandangan ini berbeda dengan sejumlah tradisi kuno yang memandang dunia sebagai siklus tanpa akhir. Dalam pemikiran Zarathustra, sejarah memiliki arah, tujuan, dan makna moral yang jelas. Oleh sebab itu, metafisika Zarathustra bukan hanya menjelaskan struktur realitas, tetapi juga memberikan dasar etis bagi tindakan manusia dalam kehidupan dunia.


Footnotes

[1]                ¹ The Gathas of Zarathustra, trans. Stanley Insler (Leiden: Brill, 1975), 29–33.

[2]                ² Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 26–31.

[3]                ³ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 34–39.

[4]                ⁴ The Gathas of Zarathustra, 52–56.

[5]                ⁵ Geo Widengren, Religionen Irans (Stuttgart: Kohlhammer, 1965), 47–51.

[6]                ⁶ Mary Boyce, A History of Zoroastrianism, Vol. 1 (Leiden: Brill, 1975), 192–198.

[7]                ⁷ Henri Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan Paul International, 1993), 7–9.

[8]                ⁸ Ilya Gershevitch, “Zoroaster’s Own Contribution,” Journal of Near Eastern Studies 23, no. 1 (1964): 20–24.

[9]                ⁹ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism, 58–63.

[10]             ¹⁰ Avesta, trans. James Darmesteter (Oxford: Clarendon Press, 1880), 112–118.

[11]             ¹¹ Mary Boyce, Textual Sources for the Study of Zoroastrianism (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 41–45.

[12]             ¹² The Gathas of Zarathustra, 67–71.

[13]             ¹³ Geo Widengren, Religionen Irans, 88–92.


4.           Dimensi Etika dalam Pemikiran Zarathustra

4.1.       Moralitas sebagai Pilihan Rasional

Salah satu ciri paling menonjol dalam pemikiran Zarathustra adalah penekanannya terhadap tanggung jawab moral individu. Dalam ajaran Zarathustra, manusia dipahami sebagai makhluk rasional yang memiliki kebebasan untuk memilih antara jalan kebenaran (asha) dan jalan kebohongan (druj).¹ Dengan demikian, moralitas tidak dipandang sebagai sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh nasib atau kekuatan supranatural, melainkan sebagai hasil keputusan sadar manusia.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa etika Zarathustra memiliki dimensi eksistensial yang kuat. Manusia tidak sekadar menjadi objek dalam pertarungan kosmis antara kebaikan dan kejahatan, tetapi juga menjadi subjek aktif yang menentukan arah hidupnya sendiri.² Dalam Gatha, Zarathustra berulang kali menyerukan agar manusia menggunakan akal dan kebijaksanaan untuk menilai tindakan yang benar. Oleh sebab itu, penggunaan rasio menjadi unsur penting dalam kehidupan moral.

Kebebasan memilih dalam pemikiran Zarathustra juga berkaitan dengan konsep tanggung jawab individual. Setiap manusia akan menerima konsekuensi atas pilihan dan tindakannya sendiri, baik di dunia maupun setelah kematian.³ Tidak ada keselamatan yang diperoleh semata-mata melalui ritual formal atau status sosial. Yang menentukan nilai seseorang adalah kualitas moral dari pikiran, perkataan, dan perbuatannya.

Konsep tersebut memperlihatkan perbedaan penting antara etika Zarathustra dan sistem religius kuno yang lebih menekankan ritual pengorbanan. Zarathustra justru menempatkan integritas moral sebagai inti religiositas.⁴ Dengan demikian, dimensi etika dalam Zoroastrianisme tidak dapat dipisahkan dari kesadaran rasional manusia untuk memilih kebaikan secara sadar dan bertanggung jawab.

4.2.       Prinsip “Humata, Hukhta, Hvarshta”

Etika Zarathustra dirumuskan secara ringkas dalam prinsip terkenal: Humata, Hukhta, Hvarshta, yang berarti “pikiran baik, perkataan baik, dan perbuatan baik.”⁵ Prinsip ini menjadi fondasi moral dalam kehidupan individu maupun sosial dalam tradisi Zoroastrianisme.

Konsep “pikiran baik” (humata) menekankan pentingnya kemurnian batin dan orientasi intelektual terhadap kebenaran. Dalam pemikiran Zarathustra, tindakan moral harus berasal dari kesadaran dan niat yang benar. Pikiran manusia dipandang sebagai medan awal pertarungan antara asha dan druj.⁶ Oleh karena itu, pengendalian diri dan refleksi rasional menjadi bagian penting dari kehidupan etis.

Sementara itu, “perkataan baik” (hukhta) menunjukkan bahwa bahasa memiliki dimensi moral. Ucapan tidak dipahami sekadar alat komunikasi, melainkan sebagai sarana yang dapat memperkuat kebenaran atau justru menyebarkan kebohongan.⁷ Dalam konteks ini, kejujuran menjadi salah satu nilai utama dalam etika Zarathustra. Kebohongan dipandang sebagai manifestasi druj yang merusak keteraturan sosial dan spiritual.

Adapun “perbuatan baik” (hvarshta) berkaitan dengan implementasi nyata dari nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Moralitas tidak cukup berhenti pada tingkat pemikiran dan ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan konkret yang mendukung kehidupan, keadilan, dan kesejahteraan bersama.⁸ Dalam tradisi Zoroastrianisme, tindakan seperti bekerja secara jujur, menjaga lingkungan, membantu sesama, dan menegakkan keadilan dipandang sebagai bentuk partisipasi dalam mendukung kemenangan asha.

Prinsip tiga serangkai ini memperlihatkan bahwa etika Zarathustra bersifat holistik. Kehidupan moral mencakup seluruh dimensi manusia: intelektual, verbal, dan praktis. Dengan demikian, manusia ideal dalam pemikiran Zarathustra adalah manusia yang mampu menjaga keselarasan antara pikiran, perkataan, dan tindakan.

Selain itu, prinsip tersebut juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Moralitas tidak dipahami secara individualistis, melainkan sebagai dasar terciptanya keteraturan masyarakat.⁹ Kehidupan sosial yang harmonis hanya mungkin terwujud apabila individu-individu mempraktikkan kejujuran, tanggung jawab, dan tindakan yang mendukung kebaikan bersama.

4.3.       Konsep Jiwa dan Penghakiman

Dimensi etika dalam pemikiran Zarathustra mencapai puncaknya dalam ajaran mengenai jiwa dan penghakiman setelah kematian. Dalam Zoroastrianisme, kehidupan manusia tidak berhenti pada eksistensi duniawi, melainkan berlanjut menuju proses evaluasi moral atas seluruh tindakan selama hidup.¹⁰ Konsep ini memperlihatkan hubungan erat antara etika dan eskatologi dalam pemikiran Zarathustra.

Setelah kematian, jiwa manusia diyakini akan melewati Jembatan Chinvat, yaitu jembatan yang memisahkan dunia orang benar dan dunia orang jahat.¹¹ Jiwa yang selama hidup mendukung asha akan dapat melewati jembatan tersebut dengan selamat dan memasuki alam kebahagiaan. Sebaliknya, jiwa yang mengikuti druj akan jatuh ke dalam penderitaan dan kegelapan.

Konsep penghakiman ini menunjukkan bahwa keadilan moral dalam pemikiran Zarathustra bersifat universal dan tidak dapat dihindari. Setiap individu bertanggung jawab secara langsung atas tindakannya sendiri.¹² Dengan demikian, etika Zarathustra mengandung prinsip akuntabilitas moral yang kuat karena seluruh kehidupan manusia akan memperoleh konsekuensi yang setimpal.

Menariknya, penghakiman dalam Zoroastrianisme tidak hanya dipahami sebagai hukuman, tetapi juga sebagai bagian dari proses kosmis menuju pemurnian akhir dunia. Dalam konsep Frashokereti, seluruh ciptaan pada akhirnya akan diperbarui dan kejahatan akan dihancurkan sepenuhnya.¹³ Pandangan ini memperlihatkan optimisme moral bahwa kebenaran dan kebaikan pada akhirnya akan menang atas keburukan.

Secara filosofis, konsep jiwa dan penghakiman dalam pemikiran Zarathustra memberikan dasar metafisis bagi etika. Moralitas tidak dipandang sebagai konstruksi sosial semata, melainkan memiliki konsekuensi kosmis dan spiritual. Karena itu, tindakan manusia memperoleh makna yang melampaui kehidupan duniawi.

Dalam konteks sejarah pemikiran agama, konsep-konsep eskatologis Zoroastrianisme seperti surga, neraka, penghakiman jiwa, dan kemenangan akhir kebaikan diyakini memberikan pengaruh terhadap perkembangan tradisi keagamaan lain di Timur Tengah.¹⁴ Hal ini menunjukkan bahwa dimensi etika Zarathustra tidak hanya penting dalam konteks Persia kuno, tetapi juga dalam sejarah perkembangan gagasan moral dan religius dunia.


Footnotes

[1]                ¹ The Gathas of Zarathustra, trans. Stanley Insler (Leiden: Brill, 1975), 41–45.

[2]                ² Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 35–39.

[3]                ³ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 72–76.

[4]                ⁴ Geo Widengren, Religionen Irans (Stuttgart: Kohlhammer, 1965), 59–63.

[5]                ⁵ Mary Boyce, A History of Zoroastrianism, Vol. 1 (Leiden: Brill, 1975), 201–204.

[6]                ⁶ The Gathas of Zarathustra, 66–69.

[7]                ⁷ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism, 81–83.

[8]                ⁸ Mary Boyce, Textual Sources for the Study of Zoroastrianism (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 52–55.

[9]                ⁹ Geo Widengren, Religionen Irans, 66–68.

[10]             ¹⁰ Avesta, trans. James Darmesteter (Oxford: Clarendon Press, 1880), 145–149.

[11]             ¹¹ Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices, 98–101.

[12]             ¹² R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism, 95–99.

[13]             ¹³ Geo Widengren, Religionen Irans, 88–92.

[14]             ¹⁴ Henry Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan Paul International, 1993), 5–9.


5.           Pemikiran Zarathustra dalam Perspektif Filsafat

5.1.       Unsur Rasional dalam Ajaran Zarathustra

Pemikiran Zarathustra memperlihatkan kecenderungan rasional yang cukup menonjol dibanding banyak tradisi religius kuno lainnya. Dalam Gatha, manusia tidak diperintahkan untuk menerima ajaran secara pasif, melainkan diajak menggunakan akal dan pertimbangan moral untuk memahami kebenaran.¹ Zarathustra menempatkan kesadaran rasional sebagai sarana penting dalam membedakan antara asha (kebenaran) dan druj (kebohongan). Dengan demikian, agama dalam perspektif Zarathustra tidak sepenuhnya bertumpu pada ritual dan otoritas tradisional, tetapi juga pada refleksi intelektual manusia.

Kecenderungan rasional tersebut tampak dalam penolakannya terhadap praktik-praktik keagamaan lama yang dianggap irasional atau tidak bermoral. Zarathustra mengkritik ritual pengorbanan tertentu dan menegaskan bahwa kualitas moral manusia lebih penting daripada formalitas ritualistik.² Hal ini menunjukkan bahwa nilai religius harus selaras dengan prinsip etika dan rasionalitas.

Selain itu, pemikiran Zarathustra menampilkan hubungan erat antara kebijaksanaan ilahi dan akal manusia. Ahura Mazda dipandang sebagai sumber kebijaksanaan kosmis, sementara manusia diberikan kemampuan berpikir agar mampu memahami serta mengikuti keteraturan moral alam semesta.³ Dalam konteks ini, rasio bukan diposisikan sebagai lawan wahyu, melainkan sebagai instrumen untuk memahami dan mengimplementasikan kebenaran ilahi.

Pandangan tersebut membuat sejumlah sarjana memandang Zarathustra sebagai salah satu tokoh awal yang memperkenalkan bentuk etika rasional dalam sejarah pemikiran manusia.⁴ Moralitas dipahami bukan semata-mata sebagai kepatuhan buta terhadap kekuatan supranatural, tetapi sebagai pilihan sadar yang didasarkan pada pertimbangan intelektual dan tanggung jawab etis. Dengan demikian, pemikiran Zarathustra memiliki karakter filosofis yang melampaui dimensi mitologis tradisional.

5.2.       Problem Dualisme Filosofis

Salah satu tema utama dalam filsafat Zarathustra adalah dualisme, yaitu pertentangan antara prinsip kebaikan dan kejahatan. Dualisme ini menjadi pusat perdebatan filosofis karena berkaitan dengan persoalan metafisika, moralitas, dan asal-usul kejahatan dalam alam semesta.⁵ Dalam Zoroastrianisme, pertentangan antara asha dan druj sering dipahami sebagai konflik universal yang membentuk dinamika realitas.

Secara filosofis, dualisme Zarathustra dapat dipahami dalam dua pendekatan utama. Pertama, dualisme ontologis yang memandang kebaikan dan kejahatan sebagai dua prinsip eksistensial yang sama-sama nyata dan aktif dalam kosmos. Pendekatan ini muncul terutama dalam perkembangan teologi Zoroastrianisme pasca-Gatha, ketika Angra Mainyu dipahami sebagai kekuatan kosmis yang berlawanan dengan Ahura Mazda.⁶

Kedua, dualisme etis yang memahami pertentangan tersebut lebih sebagai konflik moral daripada metafisis. Dalam interpretasi ini, kejahatan tidak memiliki eksistensi independen yang setara dengan kebaikan, tetapi muncul sebagai konsekuensi dari pilihan sadar yang menyimpang dari keteraturan ilahi.⁷ Banyak sarjana modern berpendapat bahwa interpretasi kedua lebih sesuai dengan teks awal Gatha yang menekankan tanggung jawab moral manusia.

Problem dualisme dalam pemikiran Zarathustra berkaitan erat dengan persoalan filsafat klasik mengenai “problem of evil” atau problem kejahatan. Jika Ahura Mazda adalah sumber kebaikan dan kebijaksanaan, mengapa kejahatan tetap ada dalam dunia?⁸ Zarathustra menjawab persoalan tersebut dengan menempatkan kebebasan moral sebagai elemen penting dalam struktur kosmis. Kejahatan muncul bukan karena diciptakan sebagai tujuan ilahi, tetapi karena adanya pilihan yang menolak asha.

Meskipun demikian, dualisme Zarathustra tetap memunculkan kritik filosofis. Jika kejahatan memiliki kekuatan yang nyata dalam kosmos, maka muncul pertanyaan mengenai kemahakuasaan Ahura Mazda. Sebaliknya, jika kejahatan hanya merupakan ketiadaan kebaikan, maka mengapa pertarungan kosmis digambarkan begitu nyata dan dramatis?⁹ Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa metafisika Zarathustra mengandung kompleksitas filosofis yang terus menjadi objek kajian hingga masa modern.

5.3.       Relasi dengan Filsafat Timur dan Barat

Pemikiran Zarathustra memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan filsafat Timur maupun Barat. Dalam konteks Persia kuno, ajarannya menjadi fondasi spiritual dan intelektual bagi kebudayaan Iran selama berabad-abad.¹⁰ Nilai-nilai seperti keteraturan kosmis, tanggung jawab moral, dan pertarungan antara kebaikan dan keburukan membentuk cara pandang masyarakat Persia terhadap kehidupan dan sejarah.

Sejumlah sarjana juga melihat adanya kemungkinan pengaruh pemikiran Zarathustra terhadap tradisi keagamaan Abrahamik, khususnya dalam konsep malaikat, setan, hari penghakiman, surga, neraka, dan akhir zaman.¹¹ Pengaruh tersebut diperkirakan terjadi selama interaksi bangsa Yahudi dengan Kekaisaran Persia pada periode Achaemenid. Walaupun hubungan historis tersebut masih diperdebatkan, kesamaan konsep eskatologis antara Zoroastrianisme dan tradisi Abrahamik menjadi perhatian penting dalam studi agama-agama komparatif.

Dalam konteks filsafat Barat, pemikiran Zarathustra memperoleh perhatian besar melalui reinterpretasi Friedrich Nietzsche dalam Also Sprach Zarathustra. Nietzsche menggunakan figur Zarathustra sebagai simbol filsuf yang melampaui moralitas konvensional dan menyerukan transformasi nilai-nilai manusia.¹² Namun, Zarathustra Nietzsche berbeda secara substansial dari Zarathustra historis. Jika Zarathustra historis menekankan pertarungan moral antara baik dan buruk, Nietzsche justru mengkritik moralitas dualistik tradisional dan menawarkan konsep transvaluasi nilai.

Di sisi lain, sejumlah peneliti membandingkan pemikiran Zarathustra dengan filsafat Yunani kuno, terutama dalam aspek kosmologi dan etika. Konsep keteraturan kosmis dalam asha memiliki kemiripan tertentu dengan gagasan logos dalam filsafat Yunani.¹³ Selain itu, penekanan terhadap penggunaan akal dan pilihan moral menunjukkan adanya kecenderungan rasional yang juga berkembang dalam tradisi filsafat Yunani klasik.

Meskipun demikian, pemikiran Zarathustra tetap memiliki karakter khas Persia yang kuat. Berbeda dengan filsafat Yunani yang lebih menekankan spekulasi metafisis abstrak, filsafat Zarathustra lebih berorientasi pada moralitas praktis dan perjuangan etis manusia dalam dunia nyata.¹⁴ Oleh karena itu, pemikiran Zarathustra dapat dipahami sebagai bentuk filsafat religius yang memadukan metafisika, etika, dan spiritualitas secara integral.

Secara keseluruhan, pemikiran Zarathustra menunjukkan bahwa tradisi intelektual Persia kuno memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan sejarah filsafat dunia. Ajarannya tidak hanya penting dalam konteks religius, tetapi juga relevan dalam diskusi filosofis mengenai moralitas, kebebasan manusia, rasionalitas, dan problem kejahatan.


Footnotes

[1]                ¹ The Gathas of Zarathustra, trans. Stanley Insler (Leiden: Brill, 1975), 37–42.

[2]                ² Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 30–35.

[3]                ³ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 44–48.

[4]                ⁴ Ilya Gershevitch, “Zoroaster’s Own Contribution,” Journal of Near Eastern Studies 23, no. 1 (1964): 24–28.

[5]                ⁵ Geo Widengren, Religionen Irans (Stuttgart: Kohlhammer, 1965), 49–54.

[6]                ⁶ Mary Boyce, A History of Zoroastrianism, Vol. 1 (Leiden: Brill, 1975), 194–201.

[7]                ⁷ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism, 52–58.

[8]                ⁸ John Hick, Evil and the God of Love (London: Macmillan, 1966), 12–16.

[9]                ⁹ Henri Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan Paul International, 1993), 6–10.

[10]             ¹⁰ Mary Boyce, Textual Sources for the Study of Zoroastrianism (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 17–22.

[11]             ¹¹ Geo Widengren, The Ascension of the Apostle and the Heavenly Book (Uppsala: Lundequistska Bokhandeln, 1950), 118–124.

[12]             ¹² Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, trans. Walter Kaufmann (New York: Penguin Books, 1978), 11–18.

[13]             ¹³ Werner Jaeger, The Theology of the Early Greek Philosophers (Oxford: Clarendon Press, 1947), 95–101.

[14]             ¹⁴ Henry Corbin, History of Islamic Philosophy, 10–14.


6.           Zarathustra dalam Pemikiran Modern

6.1.       Interpretasi Friedrich Nietzsche

Tokoh Zarathustra memperoleh tempat yang sangat penting dalam filsafat modern melalui reinterpretasi Friedrich Nietzsche dalam karya Also Sprach Zarathustra. Dalam karya tersebut, Nietzsche menggunakan figur Zarathustra sebagai tokoh simbolik yang menyampaikan gagasan-gagasan filosofisnya mengenai kehendak untuk berkuasa (will to power), manusia unggul (Übermensch), dan kritik terhadap moralitas tradisional.¹ Pemilihan Zarathustra sebagai tokoh utama bukanlah kebetulan, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam.

Nietzsche memandang Zarathustra historis sebagai tokoh pertama yang merumuskan moralitas dualistik secara sistematis, yakni pemisahan tegas antara baik dan buruk.² Oleh karena itu, Nietzsche menilai bahwa Zarathustra pula yang paling tepat untuk “membalikkan” moralitas tersebut melalui kritik terhadap nilai-nilai lama. Dalam perspektif Nietzsche, moralitas tradisional dianggap telah melemahkan vitalitas manusia karena terlalu menekankan kepatuhan, asketisme, dan penyangkalan diri.

Meskipun menggunakan nama Zarathustra, filsafat Nietzsche sebenarnya sangat berbeda dari Zoroastrianisme klasik. Zarathustra historis menekankan kemenangan kebenaran moral dan keteraturan kosmis, sedangkan Nietzsche justru mengkritik konsep moral universal yang absolut.³ Dalam filsafat Nietzsche, manusia ideal adalah individu yang mampu menciptakan nilai-nilai baru secara mandiri tanpa tunduk pada sistem moral tradisional.

Konsep Übermensch dalam Nietzsche menggambarkan manusia yang melampaui keterbatasan moral konvensional dan mampu mengafirmasi kehidupan secara penuh.⁴ Tokoh Zarathustra dalam karya Nietzsche bertindak sebagai nabi filosofis yang menyerukan transformasi eksistensial manusia modern. Oleh sebab itu, Thus Spoke Zarathustra bukan sekadar karya sastra filosofis, melainkan juga simbol kritik Nietzsche terhadap budaya Barat modern.

Namun demikian, penggunaan figur Zarathustra oleh Nietzsche memunculkan perdebatan di kalangan sarjana. Sebagian menilai bahwa Nietzsche melakukan reinterpretasi kreatif yang tidak merepresentasikan ajaran Zarathustra historis secara akurat.⁵ Akan tetapi, yang lain melihat bahwa pemilihan Zarathustra justru menunjukkan pengakuan Nietzsche terhadap besarnya pengaruh filosofis tokoh Persia tersebut dalam sejarah moralitas manusia.

6.2.       Kajian Kontemporer terhadap Zoroastrianisme

Dalam studi modern, pemikiran Zarathustra dan tradisi Zoroastrianisme menjadi objek kajian multidisipliner yang melibatkan sejarah, filologi, filsafat, antropologi, dan studi agama-agama. Para sarjana modern berusaha membedakan antara ajaran asli Zarathustra sebagaimana tercermin dalam Gatha dan perkembangan teologis Zoroastrianisme pada periode-periode berikutnya.⁶ Pendekatan historis-kritis menjadi penting karena teks-teks Avesta mengalami proses transmisi panjang yang kompleks.

Kajian filologis modern menunjukkan bahwa bahasa Gatha memiliki kedekatan dengan bahasa Sanskerta Veda, yang menandakan akar Indo-Iran kuno dari pemikiran Zarathustra.⁷ Penelitian ini membantu para sarjana memahami konteks budaya dan intelektual tempat Zarathustra hidup. Selain itu, pendekatan linguistik memungkinkan rekonstruksi yang lebih hati-hati terhadap ajaran awal Zoroastrianisme.

Dalam bidang filsafat agama, pemikiran Zarathustra banyak dikaji terkait problem dualisme dan kejahatan. Sebagian sarjana melihat Zoroastrianisme sebagai salah satu sistem religius pertama yang memberikan penjelasan etis mengenai asal-usul kejahatan.⁸ Kejahatan dipahami bukan sekadar sebagai kekuatan destruktif alamiah, tetapi sebagai bentuk oposisi moral terhadap keteraturan kosmis. Pandangan ini dianggap memberi kontribusi penting terhadap perkembangan konsep tanggung jawab moral dalam sejarah agama-agama.

Di samping itu, Zoroastrianisme modern juga menarik perhatian dalam kajian ekologi dan etika lingkungan. Tradisi Zoroastrianisme menempatkan unsur-unsur alam seperti api, air, tanah, dan udara sebagai bagian suci dari ciptaan yang harus dijaga kemurniannya.⁹ Karena itu, sejumlah peneliti melihat adanya dimensi ekologis dalam etika Zarathustra yang relevan dengan krisis lingkungan kontemporer.

Dalam konteks globalisasi dan pluralisme modern, komunitas Zoroastrianisme kontemporer juga menghadapi tantangan identitas budaya dan religius. Populasi penganut Zoroastrianisme yang relatif kecil membuat tradisi ini berada dalam posisi rentan terhadap perubahan sosial modern.¹⁰ Meskipun demikian, Zoroastrianisme tetap bertahan sebagai salah satu tradisi religius tertua di dunia yang masih hidup hingga saat ini.

6.3.       Kritik terhadap Pemikiran Zarathustra

Meskipun pemikiran Zarathustra memiliki pengaruh besar dalam sejarah filsafat dan agama, berbagai kritik juga muncul terhadap sistem metafisika dan etikanya. Salah satu kritik utama berkaitan dengan problem dualisme. Sebagian filsuf menilai bahwa dualisme antara kebaikan dan kejahatan dalam Zoroastrianisme berpotensi menimbulkan kesulitan metafisis mengenai hubungan antara Tuhan yang baik dan keberadaan kejahatan dalam dunia.¹¹

Jika kejahatan dipahami sebagai kekuatan kosmis yang nyata, maka muncul pertanyaan mengenai supremasi Ahura Mazda sebagai prinsip tertinggi. Dalam perspektif filsafat monoteistik, dualisme semacam ini dianggap dapat mengurangi konsep kemahakuasaan Tuhan.¹² Sebaliknya, jika kejahatan hanya dipahami sebagai akibat pilihan moral manusia, maka dualisme kosmis dalam Zoroastrianisme tampak kurang konsisten secara ontologis.

Kritik lain berkaitan dengan persoalan historisitas Zarathustra dan autentisitas teks Avesta. Karena sebagian besar sumber mengenai Zarathustra berasal dari tradisi religius yang berkembang berabad-abad setelah masa hidupnya, para sejarawan menghadapi kesulitan dalam memisahkan fakta historis dari unsur mitologis.¹³ Akibatnya, rekonstruksi terhadap pemikiran asli Zarathustra sering kali bersifat interpretatif.

Di sisi lain, sebagian pemikir modern juga mengkritik kecenderungan moral dualistik yang membagi realitas secara tajam antara baik dan buruk. Dalam filsafat kontemporer, realitas moral sering dipahami lebih kompleks dan kontekstual dibanding oposisi biner yang ketat.¹⁴ Oleh sebab itu, beberapa sarjana menilai bahwa etika Zarathustra perlu dipahami secara simbolik dan historis, bukan secara literal.

Namun demikian, terlepas dari berbagai kritik tersebut, pemikiran Zarathustra tetap memiliki relevansi filosofis yang signifikan. Konsep tanggung jawab moral, kebebasan memilih, dan perjuangan etis manusia terus menjadi tema penting dalam diskusi filsafat modern.¹⁵ Selain itu, pengaruh simbolik Zarathustra dalam budaya intelektual modern menunjukkan bahwa warisan filsafat Persia kuno masih memiliki daya hidup yang kuat dalam refleksi manusia mengenai moralitas dan makna kehidupan.


Footnotes

[1]                ¹ Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, trans. Walter Kaufmann (New York: Penguin Books, 1978), 17–25.

[2]                ² Walter Kaufmann, Nietzsche: Philosopher, Psychologist, Antichrist (Princeton: Princeton University Press, 1974), 121–126.

[3]                ³ R. J. Hollingdale, Nietzsche: The Man and His Philosophy (Cambridge: Cambridge University Press, 1999), 88–94.

[4]                ⁴ Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, 101–110.

[5]                ⁵ Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 192–194.

[6]                ⁶ Ilya Gershevitch, “Zoroaster’s Own Contribution,” Journal of Near Eastern Studies 23, no. 1 (1964): 12–19.

[7]                ⁷ Martin Haug, Essays on the Sacred Language, Writings and Religion of the Parsis (London: Trübner, 1878), 230–238.

[8]                ⁸ John Hick, Evil and the God of Love (London: Macmillan, 1966), 18–22.

[9]                ⁹ Mary Boyce, A History of Zoroastrianism, Vol. 1 (Leiden: Brill, 1975), 286–291.

[10]             ¹⁰ UNESCO, The Zoroastrian Heritage of Humanity (Paris: UNESCO Publishing, 2013), 9–14.

[11]             ¹¹ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 52–60.

[12]             ¹² Henri Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan Paul International, 1993), 7–12.

[13]             ¹³ Mary Boyce, Textual Sources for the Study of Zoroastrianism (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 3–7.

[14]             ¹⁴ Paul Ricoeur, The Symbolism of Evil (Boston: Beacon Press, 1967), 245–251.

[15]             ¹⁵ Karl Jaspers, The Origin and Goal of History (New Haven: Yale University Press, 1953), 18–23.


7.           Relevansi Pemikiran Zarathustra di Era Modern

7.1.       Etika Lingkungan

Salah satu aspek pemikiran Zarathustra yang memperoleh perhatian kembali di era modern adalah pandangannya mengenai hubungan manusia dengan alam. Dalam tradisi Zoroastrianisme, unsur-unsur alam seperti api, air, tanah, dan udara dipandang sebagai bagian suci dari ciptaan Ahura Mazda yang harus dijaga kemurniannya.¹ Karena itu, tindakan yang merusak lingkungan dipahami bukan hanya sebagai persoalan praktis, tetapi juga sebagai pelanggaran moral terhadap keteraturan kosmis (asha).

Pandangan tersebut memiliki relevansi besar di tengah krisis ekologis modern yang ditandai oleh perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Pemikiran Zarathustra mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa absolut atas alam, melainkan bagian dari struktur kosmis yang harus menjaga keseimbangan kehidupan.² Dalam perspektif ini, etika lingkungan tidak hanya didasarkan pada kepentingan utilitarian, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan spiritual manusia terhadap alam semesta.

Selain itu, konsep keteraturan kosmis dalam Zoroastrianisme dapat dipahami sebagai bentuk kesadaran ekologis awal. Alam dipandang memiliki nilai intrinsik karena merupakan manifestasi keteraturan ilahi.³ Oleh sebab itu, tindakan menjaga kebersihan air, kesucian tanah, dan keberlangsungan kehidupan dipandang sebagai bentuk partisipasi manusia dalam mendukung kemenangan kebaikan atas kekacauan.

Dalam konteks filsafat lingkungan modern, pemikiran Zarathustra dapat dikaitkan dengan pendekatan etika ekologis yang menolak eksploitasi alam secara destruktif.⁴ Pandangan ini relevan dengan kebutuhan dunia kontemporer untuk membangun paradigma pembangunan yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab secara moral.

7.2.       Toleransi dan Kebebasan Moral

Pemikiran Zarathustra juga memiliki relevansi dalam diskusi modern mengenai kebebasan moral dan tanggung jawab individu. Dalam ajarannya, manusia dipahami sebagai makhluk yang memiliki kebebasan untuk memilih antara jalan kebenaran dan keburukan.⁵ Kebebasan tersebut menjadikan manusia bertanggung jawab atas tindakan dan konsekuensi moralnya sendiri.

Konsep ini memiliki hubungan erat dengan gagasan modern tentang otonomi moral manusia. Zarathustra tidak menempatkan manusia sebagai makhluk pasif yang sepenuhnya dikendalikan takdir, melainkan sebagai agen rasional yang harus menentukan pilihan etisnya secara sadar.⁶ Oleh sebab itu, moralitas dalam pemikiran Zarathustra memiliki dimensi humanistik yang kuat karena menekankan pentingnya kesadaran individu.

Di era modern yang ditandai pluralisme budaya dan agama, pendekatan moral semacam ini dapat menjadi dasar bagi dialog antartradisi keagamaan. Prinsip “pikiran baik, perkataan baik, dan perbuatan baik” (Humata, Hukhta, Hvarshta) memiliki sifat universal yang dapat diterima melampaui batas identitas etnis maupun agama tertentu.⁷ Dengan demikian, etika Zarathustra dapat dipahami sebagai salah satu bentuk moralitas universal yang menekankan kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Selain itu, penolakan Zarathustra terhadap kebohongan (druj) juga memiliki relevansi dalam kehidupan sosial-politik modern. Di tengah maraknya disinformasi, manipulasi media, dan polarisasi sosial, nilai kejujuran menjadi semakin penting dalam menjaga keteraturan masyarakat.⁸ Dalam konteks ini, etika Zarathustra dapat dipahami sebagai kritik moral terhadap praktik-praktik sosial yang merusak kepercayaan publik dan harmoni sosial.

Namun demikian, relevansi pemikiran Zarathustra di era modern tidak berarti bahwa seluruh sistem metafisiknya harus diterima secara literal. Sebaliknya, banyak sarjana kontemporer melihat nilai utama pemikirannya terletak pada prinsip etis universal yang dapat diinterpretasikan kembali sesuai konteks masyarakat modern.⁹

7.3.       Spiritualitas dan Krisis Modernitas

Modernitas membawa kemajuan besar dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan ekonomi, tetapi juga melahirkan berbagai krisis eksistensial seperti alienasi, nihilisme, dan kehilangan makna hidup.¹⁰ Dalam situasi tersebut, pemikiran Zarathustra menawarkan perspektif spiritual yang menempatkan kehidupan manusia dalam kerangka moral dan kosmis yang lebih luas.

Dalam Zoroastrianisme, kehidupan manusia dipahami sebagai bagian dari perjuangan universal antara kebenaran dan keburukan. Setiap tindakan individu memiliki makna kosmis karena berkontribusi terhadap kemenangan asha atau justru memperkuat druj.¹¹ Pandangan ini memberikan dimensi makna terhadap tindakan manusia yang sering kali hilang dalam masyarakat modern yang terlalu materialistik dan individualistik.

Relevansi pemikiran Zarathustra juga tampak dalam penekanannya terhadap integritas moral individu. Dalam dunia modern yang sering ditandai relativisme moral dan pragmatisme ekstrem, ajaran tentang keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan menjadi refleksi etis yang penting.¹² Manusia tidak hanya dinilai dari keberhasilan material, tetapi juga dari kualitas moral dan tanggung jawab sosialnya.

Selain itu, konsep kemenangan akhir kebaikan dalam Zoroastrianisme mencerminkan optimisme moral yang masih relevan di tengah berbagai krisis global modern. Perang, ketidakadilan sosial, kerusakan lingkungan, dan konflik identitas sering menimbulkan pesimisme terhadap masa depan manusia. Namun, pemikiran Zarathustra menegaskan bahwa kebaikan dan keteraturan pada akhirnya akan menang atas kekacauan dan kehancuran.¹³ Pandangan ini memberikan harapan filosofis bahwa sejarah manusia memiliki arah moral yang bermakna.

Dalam konteks spiritualitas modern, pemikiran Zarathustra juga menunjukkan bahwa agama dan filsafat tidak selalu harus dipertentangkan. Ajarannya memadukan dimensi rasional, etis, dan spiritual secara integral.¹⁴ Oleh sebab itu, Zarathustra dapat dipahami sebagai salah satu tokoh penting yang menunjukkan kemungkinan hubungan harmonis antara refleksi filosofis dan pengalaman religius.

Secara keseluruhan, relevansi pemikiran Zarathustra di era modern terletak pada kemampuannya memberikan kerangka moral dan spiritual dalam menghadapi berbagai problem kontemporer. Meskipun lahir dalam konteks Persia kuno, nilai-nilai yang dikandung dalam ajarannya tetap memiliki daya reflektif bagi manusia modern yang terus mencari keseimbangan antara rasionalitas, moralitas, dan makna kehidupan.


Footnotes

[1]                ¹ Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 109–113.

[2]                ² Geo Widengren, Religionen Irans (Stuttgart: Kohlhammer, 1965), 90–94.

[3]                ³ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 124–129.

[4]                ⁴ Arne Naess, Ecology, Community and Lifestyle (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 173–177.

[5]                ⁵ The Gathas of Zarathustra, trans. Stanley Insler (Leiden: Brill, 1975), 41–46.

[6]                ⁶ Karl Jaspers, The Origin and Goal of History (New Haven: Yale University Press, 1953), 21–25.

[7]                ⁷ Mary Boyce, A History of Zoroastrianism, Vol. 1 (Leiden: Brill, 1975), 203–205.

[8]                ⁸ Hannah Arendt, Truth and Politics (New York: Penguin Books, 1968), 227–231.

[9]                ⁹ Paul Ricoeur, The Symbolism of Evil (Boston: Beacon Press, 1967), 250–255.

[10]             ¹⁰ Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (New York: Scribner, 1958), 181–183.

[11]             ¹¹ Avesta, trans. James Darmesteter (Oxford: Clarendon Press, 1880), 146–151.

[12]             ¹² Alasdair MacIntyre, After Virtue (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1981), 204–210.

[13]             ¹³ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism, 138–142.

[14]             ¹⁴ Henri Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan Paul International, 1993), 13–16.


8.           Analisis Kritis

Pemikiran Zarathustra menempati posisi penting dalam sejarah filsafat dan agama karena menawarkan sintesis antara metafisika, etika, dan spiritualitas dalam satu kerangka kosmologis yang relatif sistematis. Dalam konteks sejarah intelektual kuno, ajaran Zarathustra memperlihatkan transformasi signifikan dari religiositas ritualistik menuju orientasi moral yang lebih reflektif dan rasional.¹ Oleh karena itu, analisis kritis terhadap pemikirannya perlu mempertimbangkan baik kekuatan filosofis maupun problem-problem konseptual yang terkandung di dalamnya.

Salah satu kekuatan utama pemikiran Zarathustra terletak pada penekanannya terhadap tanggung jawab moral individu. Dalam tradisi Persia kuno yang sebelumnya lebih menekankan ritual dan kekuatan mitologis, Zarathustra memperkenalkan konsep bahwa manusia memiliki kebebasan memilih antara asha (kebenaran) dan druj (kebohongan).² Pandangan ini menunjukkan perkembangan penting menuju etika yang berpusat pada kesadaran moral individu. Manusia tidak lagi dipandang semata-mata sebagai objek kekuatan supranatural, tetapi sebagai agen moral yang aktif dalam menentukan arah kehidupannya.

Selain itu, prinsip “pikiran baik, perkataan baik, dan perbuatan baik” (Humata, Hukhta, Hvarshta) memperlihatkan integrasi yang kuat antara dimensi intelektual, verbal, dan praktis dalam kehidupan etis.³ Moralitas tidak dipahami hanya sebagai kepatuhan formal terhadap aturan religius, tetapi sebagai keselarasan menyeluruh antara kesadaran batin dan tindakan nyata. Dalam perspektif filsafat moral modern, pendekatan ini memiliki kedekatan dengan konsep integritas etis dan tanggung jawab sosial.

Pemikiran Zarathustra juga memiliki keunggulan dalam memberikan makna moral terhadap sejarah dan kehidupan manusia. Dunia dipahami sebagai arena perjuangan antara keteraturan dan kekacauan, sementara manusia memperoleh peran aktif dalam mendukung kemenangan kebaikan.⁴ Konsep tersebut melahirkan optimisme moral bahwa sejarah memiliki arah dan tujuan yang bermakna. Dalam konteks modern yang sering diwarnai nihilisme dan relativisme moral, pandangan ini tetap relevan sebagai upaya mempertahankan makna etis dalam kehidupan manusia.

Namun demikian, pemikiran Zarathustra juga menghadapi sejumlah problem filosofis yang cukup mendasar. Salah satu problem utama berkaitan dengan dualisme kosmis antara kebaikan dan kejahatan. Dalam beberapa interpretasi Zoroastrianisme, dualisme ini tampak menempatkan Angra Mainyu sebagai kekuatan yang relatif independen terhadap Ahura Mazda.⁵ Persoalan tersebut menimbulkan pertanyaan metafisis mengenai status ontologis kejahatan dan supremasi Tuhan.

Jika kejahatan memiliki eksistensi yang sejajar dengan kebaikan, maka konsep Tuhan Yang Mahakuasa menjadi problematis karena keberadaan kekuatan jahat tampak membatasi kekuasaan ilahi. Sebaliknya, jika kejahatan hanya dipahami sebagai penyimpangan moral atau ketiadaan kebaikan, maka dualisme kosmis dalam Zoroastrianisme tampak kehilangan dasar ontologisnya.⁶ Ambiguitas ini menunjukkan bahwa metafisika Zarathustra berada dalam ketegangan antara kecenderungan monoteistik dan dualistik.

Di sisi lain, problem dualisme juga dapat melahirkan penyederhanaan moral yang terlalu biner. Pembagian realitas secara tajam antara baik dan buruk berpotensi mengabaikan kompleksitas pengalaman manusia dan kondisi sosial historis yang sering kali ambigu.⁷ Dalam filsafat moral kontemporer, tindakan manusia umumnya dipahami dalam konteks yang lebih kompleks dibanding oposisi mutlak antara kebenaran dan kebohongan. Oleh sebab itu, sebagian sarjana modern menilai bahwa konsep dualisme Zarathustra lebih tepat dipahami secara simbolik dan etis daripada secara literal-metafisis.

Kritik lain berkaitan dengan persoalan historisitas dan sumber tekstual. Rekonstruksi terhadap pemikiran asli Zarathustra menghadapi kesulitan karena teks-teks Avesta mengalami proses transmisi yang panjang dan tidak sepenuhnya utuh.⁸ Banyak unsur teologis dalam Zoroastrianisme berkembang beberapa abad setelah masa Zarathustra, sehingga sulit menentukan batas yang jelas antara ajaran asli dan interpretasi belakangan. Akibatnya, kajian terhadap filsafat Zarathustra sering bergantung pada pendekatan filologis dan historis-kritis yang sifatnya interpretatif.

Meskipun demikian, keterbatasan historis tersebut tidak menghilangkan nilai filosofis pemikiran Zarathustra. Sebaliknya, hal itu justru memperlihatkan bagaimana suatu tradisi intelektual berkembang melalui proses reinterpretasi historis. Dalam konteks ini, pengaruh Zarathustra terhadap pemikiran dunia menjadi lebih penting dibanding persoalan autentisitas literal ajarannya.⁹ Gagasan tentang pertarungan moral kosmis, kebebasan manusia, dan kemenangan akhir kebaikan telah memberi kontribusi besar terhadap perkembangan filsafat agama dan tradisi eskatologis dunia.

Secara filosofis, pemikiran Zarathustra dapat dipahami sebagai salah satu bentuk awal filsafat religius yang menempatkan moralitas sebagai inti struktur realitas. Berbeda dengan tradisi mitologis yang menekankan kekuatan dewa-dewa alam, Zarathustra menghubungkan kosmos dengan prinsip etis yang universal.¹⁰ Dalam hal ini, pemikirannya memiliki kedekatan tertentu dengan perkembangan filsafat moral dan metafisika pada peradaban-peradaban besar lainnya.

Pada akhirnya, relevansi utama pemikiran Zarathustra di era modern terletak pada kemampuannya mempertahankan hubungan antara moralitas, rasionalitas, dan spiritualitas. Dalam dunia modern yang sering mengalami fragmentasi nilai, ajaran Zarathustra menawarkan refleksi bahwa kehidupan manusia tidak hanya berkaitan dengan pencapaian material, tetapi juga dengan perjuangan etis untuk menjaga kebenaran, keadilan, dan keteraturan dalam kehidupan bersama. Oleh sebab itu, meskipun lahir dalam konteks Persia kuno, pemikiran Zarathustra tetap memiliki posisi penting dalam diskursus filsafat kontemporer mengenai makna kehidupan dan tanggung jawab moral manusia.


Footnotes

[1]                ¹ Mary Boyce, A History of Zoroastrianism, Vol. 1 (Leiden: Brill, 1975), 15–22.

[2]                ² The Gathas of Zarathustra, trans. Stanley Insler (Leiden: Brill, 1975), 41–46.

[3]                ³ Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 35–40.

[4]                ⁴ R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 134–138.

[5]                ⁵ Geo Widengren, Religionen Irans (Stuttgart: Kohlhammer, 1965), 49–55.

[6]                ⁶ John Hick, Evil and the God of Love (London: Macmillan, 1966), 18–24.

[7]                ⁷ Paul Ricoeur, The Symbolism of Evil (Boston: Beacon Press, 1967), 249–254.

[8]                ⁸ Mary Boyce, Textual Sources for the Study of Zoroastrianism (Chicago: University of Chicago Press, 1984), 1–7.

[9]                ⁹ Karl Jaspers, The Origin and Goal of History (New Haven: Yale University Press, 1953), 18–23.

[10]             ¹⁰ Henri Corbin, History of Islamic Philosophy (London: Kegan Paul International, 1993), 5–11.


9.           Penutup

Kajian mengenai pemikiran Zarathustra menunjukkan bahwa filsafat Persia kuno memiliki kontribusi yang sangat penting dalam perkembangan sejarah intelektual manusia. Zarathustra tidak hanya dikenal sebagai tokoh religius pendiri Zoroastrianisme, tetapi juga sebagai pemikir yang memperkenalkan sistem metafisika dan etika yang memiliki pengaruh luas terhadap tradisi filsafat dan agama dunia. Melalui konsep asha dan druj, Zarathustra membangun suatu pandangan kosmis yang menempatkan kehidupan manusia dalam pertarungan moral antara keteraturan dan kekacauan.¹ Dalam kerangka tersebut, manusia dipahami sebagai makhluk rasional dan moral yang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan etisnya sendiri.

Dari sisi metafisika, pemikiran Zarathustra memperlihatkan hubungan erat antara struktur kosmos dan prinsip moral universal. Ahura Mazda dipahami sebagai sumber kebenaran dan keteraturan, sedangkan kejahatan muncul sebagai bentuk oposisi terhadap prinsip tersebut.² Meskipun konsep dualisme dalam Zoroastrianisme menimbulkan sejumlah problem filosofis, terutama terkait status ontologis kejahatan dan kemahakuasaan Tuhan, dualisme tersebut juga menjadi salah satu kontribusi penting Zarathustra dalam sejarah filsafat agama. Pemikirannya memberikan salah satu formulasi awal mengenai problem moral dan tanggung jawab manusia dalam menghadapi keberadaan kejahatan di dunia.

Dalam dimensi etika, Zarathustra menekankan pentingnya integritas moral melalui prinsip “pikiran baik, perkataan baik, dan perbuatan baik” (Humata, Hukhta, Hvarshta).³ Prinsip tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan moral harus mencakup keseluruhan aspek manusia, baik kesadaran batin, komunikasi verbal, maupun tindakan nyata. Pandangan ini memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan modern, terutama di tengah krisis moral, disinformasi, dan kecenderungan pragmatisme sosial yang sering mengabaikan dimensi etis kehidupan manusia.

Selain itu, kajian ini menunjukkan bahwa pengaruh pemikiran Zarathustra melampaui konteks Persia kuno. Sejumlah konsep dalam Zoroastrianisme, seperti penghakiman jiwa, surga dan neraka, kemenangan akhir kebaikan, serta akhir zaman, memiliki kemiripan dengan tradisi-tradisi religius besar lainnya.⁴ Di sisi lain, reinterpretasi Friedrich Nietzsche terhadap Zarathustra dalam Also Sprach Zarathustra memperlihatkan bahwa figur Zarathustra tetap hidup dalam diskursus filsafat modern sebagai simbol refleksi terhadap moralitas, kebebasan, dan makna eksistensi manusia.

Dalam konteks modern, relevansi pemikiran Zarathustra tampak dalam berbagai isu kontemporer seperti etika lingkungan, tanggung jawab moral individu, dan pencarian makna spiritual di tengah krisis modernitas. Pandangannya mengenai kesucian alam dan pentingnya menjaga keteraturan kosmis memberikan refleksi penting terhadap problem ekologis global.⁵ Demikian pula, penekanannya terhadap kebebasan moral manusia tetap relevan dalam masyarakat modern yang semakin plural dan kompleks.

Meskipun demikian, pemikiran Zarathustra tidak terlepas dari berbagai kritik. Problem dualisme, keterbatasan historis sumber Avesta, serta kecenderungan oposisi moral yang terlalu biner menunjukkan bahwa filsafat Zarathustra tetap memerlukan interpretasi kritis dan kontekstual.⁶ Oleh sebab itu, kajian terhadap Zarathustra tidak seharusnya berhenti pada pembacaan historis semata, tetapi juga perlu dikembangkan melalui pendekatan filosofis, hermeneutis, dan komparatif yang lebih luas.

Pada akhirnya, pemikiran Zarathustra menunjukkan bahwa filsafat dan agama dalam tradisi Persia kuno berkembang dalam hubungan yang erat dan saling melengkapi. Pemikirannya memperlihatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya berkaitan dengan persoalan material dan politik, tetapi juga dengan perjuangan moral untuk mempertahankan kebenaran, keadilan, dan keteraturan dalam dunia. Dalam konteks tersebut, Zarathustra tetap menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah pemikiran manusia yang warisan intelektualnya terus relevan untuk dikaji di era modern.


Footnotes

[1]                ¹ Mary Boyce, Zoroastrians: Their Religious Beliefs and Practices (London: Routledge, 2001), 26–34.

[2]                ² R. C. Zaehner, The Dawn and Twilight of Zoroastrianism (New York: Putnam, 1961), 44–60.

[3]                ³ Mary Boyce, A History of Zoroastrianism, Vol. 1 (Leiden: Brill, 1975), 201–205.

[4]                ⁴ Geo Widengren, The Ascension of the Apostle and the Heavenly Book (Uppsala: Lundequistska Bokhandeln, 1950), 118–124.

[5]                ⁵ Arne Naess, Ecology, Community and Lifestyle (Cambridge: Cambridge University Press, 1989), 173–177.

[6]                ⁶ Paul Ricoeur, The Symbolism of Evil (Boston: Beacon Press, 1967), 249–255.


Daftar Pustaka

Hannah Arendt. (1968). Truth and politics. Penguin Books.

Mary Boyce. (1975). A history of Zoroastrianism (Vol. 1). Brill.

Mary Boyce. (1984). Textual sources for the study of Zoroastrianism. University of Chicago Press.

Mary Boyce. (2001). Zoroastrians: Their religious beliefs and practices. Routledge.

Henri Corbin. (1993). History of Islamic philosophy. Kegan Paul International.

Avesta. (1880). (J. Darmesteter, Trans.). Clarendon Press.

Ilya Gershevitch. (1964). Zoroaster’s own contribution. Journal of Near Eastern Studies, 23(1), 12–38.

Martin Haug. (1878). Essays on the sacred language, writings and religion of the Parsis. Trübner.

Walter Bruno Henning. (1951). Zoroaster: Politician or witch-doctor? Oxford University Press.

John Hick. (1966). Evil and the God of love. Macmillan.

Karl Jaspers. (1953). The origin and goal of history. Yale University Press.

Werner Jaeger. (1947). The theology of the early Greek philosophers. Clarendon Press.

Walter Kaufmann. (1974). Nietzsche: Philosopher, psychologist, antichrist. Princeton University Press.

Alasdair MacIntyre. (1981). After virtue. University of Notre Dame Press.

Arne Naess. (1989). Ecology, community and lifestyle. Cambridge University Press.

Friedrich Nietzsche. (1978). Thus spoke Zarathustra (W. Kaufmann, Trans.). Penguin Books.

Paul Ricoeur. (1967). The symbolism of evil. Beacon Press.

The Gathas of Zarathustra. (1975). (S. Insler, Trans.). Brill.

UNESCO. (2013). The Zoroastrian heritage of humanity. UNESCO Publishing.

Max Weber. (1958). The Protestant ethic and the spirit of capitalism. Scribner.

Geo Widengren. (1950). The ascension of the apostle and the heavenly book. Lundequistska Bokhandeln.

Geo Widengren. (1965). Religionen Irans. Kohlhammer.

R. C. Zaehner. (1961). The dawn and twilight of Zoroastrianism. Putnam.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar